Kabargembiraindonesia.com
Artikel Headline

Mukmin Qowiy, Mukmin Kuat

Ramadan, Covid, dan Great Habit (2)

Ali push up! Saya diteriaki begitu oleh Mamak (panggilan Bu Dahlan) saat senam. Mengapa? Terlambat. Telinga saya sudah agak kebal. Tapi, kali ini bunyinya lain. Ali pulang! Saya nggak ngeh. Apa yang kurang? Teman yang berdekatan memberitahu sambil menuding maskernya. Wah, ternyata saya lupa maskeran. Saya langsung lari. Ambil di mobil.

Itulah komitmen Grup Senam Dahlan Iskan: I protect you, you protect me. Saling melindungi. Jangan sampai ada yang terkena Corona. Karena itu, yang tidak maskeran tidak boleh ikut.

Jaraknya pun dijaga. Harus lebih dari tiga meter. Jika tidak sadar, karena gerakan tertentu mepet ke yang lain, diingatkan untuk kembali jaga jarak.

Pendinginan pun yang biasanya menggunakan lagu-lagu yang slow dengan gerakan cooling down, selama covid diganti pernapasan hingga 21 kali. Ada maksudnya. Rapid test. Inhale pernapasan terakhirnya dipanjangkan, lalu exhalenya ditahan 20 detik. Begitu selesai, ditunggu. Ada yang batuk tidak. Aman. Sejauh ini tidak ada. Semuanya tepuk tangan. Untuk sementara selamat dari Corona. Versi rapid test. Versi tes napas panjang.

Belum selesai. Namanya kumpulan yang anggotanya kebanyakan ibu-ibu, ada saja yang membawa makanan (sebelum Ramadan). Selama covid dilarang. Mengapa? Berpotensi untuk bergerombol. Bahaya. Saya pernah dapat teguran keras. Bawa kacang godok, saya tempatkan di tas. Tidak dibungkusi satu per satu. Rawan untuk berkerumun. Abah DI tahu. Lalu teriak: Siapa bawa? Bawa pulang!

Disiplin tinggi memang sangat perlu di musim corona ini. Sayangnya, tidak mudah menerapkannya di semua tempat. Contohnya pasar, supermarket, termasuk tempat ibadah. Di masjid, paling tidak di tempat saya, belum ada yang berani melarang jamaah tidak maskeran. Seandainya, ada takmir yang tegas yang “dipersenjatai” thermogun, siapa yang suhunya di atas 37, tidak boleh masuk, begitu juga yang tidak maskeran, tentu setidaknya membantu menghindarkan kemungkinan penyebaran virus. Itu kalau masjidnya belum lockdown.

Lesson learned-nya adalah: alangkah bagusnya jika momen covid dan Ramadan ini, kita pakai lebih mendisiplinkan diri. Rasanya, di sinilah, kita lemah. Padahal, nabi meminta kita menjadi mukmin yang qowiy, mukmin yang kuat. Bukankah ada hadis shoheh berbunyi begini: mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disayang oleh Alloh daripada mukmin yang lemah (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Perlu latihan untuk mencapai level great habit yang kata Aristoteles syarat menjadi excellence (baca tulisan Ramadan, Covid, dan Great Habit edisi pertama kemarin). Seandainya puasa sebulan penuh ini juga kita pakai pembentukan great habit disiplin, alangkah hebatnya. Very basic way menuju mukmin kuat, mukmin qowiy: ya fisiknya, ilmunya, dan terutama ekonominya. Aamiin.

24 April 2020, ba’da Asyar
Oleh: Ali Murtadlo
Presented by: Kabar Gembira Indonesia