Kabargembiraindonesia.com
Artikel Ramadan

Mengapa Kita Mengambil Karunia Allah Sedikit Saja

“….dan tidak satu pun makhluk

bergerak di bumi melainkan

dijamin Allah rejekinya (QS Hud, 6)

Ayat ini berlaku untuk siapa saja. Manusia atau bukan manusia. Manusia yang mengakui keberadaan Sang Penyedia Rejeki atau bahkan yang ingkar terhadapNya. Semua dijamin. Rejeki itu disebarnya di muka bumi, di perut bumi, atau pun di langit. Ada yang memetiknya lewat peluncuran satelit dan menerbanginya. Ada yang menggalinya dengan bor minyak dan gas. Ada yang mengaisnya berupa sawah ladang dan pabrik-pabrik. Ada yang mengambilnya hanya dengan eker-eker dengan kakinya, Ada yang dengan kekuatan tangannya. Tapi, banyak juga yang dengan kedahsyatan otak yang telah diberikan kepadanya. Ada yang mengeksploitasi serakus-rakusnya, ada yang puas dengan sesendok saja. Bahkan, ada yang tidak tahu cara menggalinya.

Kita tergolong yang mana? Menurut saya, yang mengambilnya terlalu sedikit. Karena itu, kita kurang berkelimpahan. Bahkan, di beberapa kawasan, kita menjadi umat yang kekurangan.

Pilih kasihkah Tuhan? Tidak adilkah Dia. Pasti tidak. Sudah ditebarNya di mana-mana. Kita saja yang hanya mengambilnya terlalu sedikit. Bisa karena kurang mau, kurang ilmu dan kurang sangu. Kurang ilmu dan kurang sangu bisa diatasi dengan percepatan pendidikan, pelatihan, dan mengundang investor.

Yang repot jika kurang mau. Dan itu disebabkan karena salah memahami perintahNYA. Padahal Sang Pencipta Rejeki jelas-jelas mengatakan begini: “setelah salat engkau tunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi untuk mencari karunia Allah. Dan selalu ingatlah kepadaNya supaya kamu beruntung” (QS Al Jumuah 9). Pertanyaannya? Sudah bertebarankah kita? Sudah berhijrahkah kita? Sudah seberapa kerja keraskah kita? Sudah seberapa kerja cerdaskah kita? Sudah selalu ingatkah kepadaNya?

Sayangnya, umat ini belum kerja sudah ditakuti, didemotivasi dengan dalil jangan kemaruk dunia (hubbud dunya). Akibatnya, etos kerja kita lemah dibanding lainnya. Daya bertebaran ke muka buminya lebih rendah dibanding lainnya. Padahal Sang Pencipta Rejeki sendiri mengatakan hiduplah seimbang: cari bekal untuk akheratmu, jangan sekali-kali lupakan duniamu (Al Qasas 77). Allah tidak mengubah nasib kita, sebelum kita berusaha mengubahnya (Ar Ra’du 11).

Perlu ayat jihad ekonomi untuk menebus “kekalahan pertempuran mencari karunia Allah” selama ini. Untuk apa? Untuk ibadah itu sendiri: bukankah perlu berharta untuk haji dan umroh, untuk zakat, untuk wakaf, untuk membangun masjid, sekolah yang bagus, real estate yang bagus, mal dan pusat hiburan yan menarik dan pabrik-pabrik agar saudara kita bisa bekerjanya dengan nyaman. Bukankah nabi bersabda: mukmin yang kuat (qowiy) lebih baik dan disayang oleh Allah dibanding mukmin yang lemah. Jadi? Jangan mengais rejeki terlalu sedikit. Allah menyediakan banyak, kita juga berhak mengambilnya banyak. Mari bertebaran ke muka bumi lebih jauh lagi. Mari berada di mana-mana seperti saudara kita Tionghoa. Umat dan agama membutuhkannya.

13 Mei 2020, ba’da Asyar
Oleh: Ali Murtadlo*
Presented by: Kabar Gembira Indonesia (KGI)