Kabargembiraindonesia.com
Artikel Ramadan

Cinta Bunda Pak Guru Prajak

Ramadan, Covid, dan Great Habit (12)

Prajak namanya. Guru SD di Thailand ini tinggal berdua dengan ibunya yang sudah tua. Cinta kasihnya kepada sang bunda luar biasa. Ke mana saja, ibunya diajak serta. Termasuk ke dalam kelas, saat Prajak mengajar.

Itulah masalahnya. Banyak wali murid mengeluhkan mengapa sang guru membawa ibunya ke kelas. Juga ke kantin. Saat anak-anak makan, pak guru menyuapi ibunya, di ruangan yang sama. Orang tua tidak suka dan protes lewat kepala sekolah. Pak Guru Prajak dipanggil.

Kasek yang bijaksana tidak hanya menyampaikan protes para wali murid. Beliau memberi solusi. “Pak Prajak tidak usah khawatir, sekolah sudah mencarikan pengasuh terbaik untuk Ibu Pak Prajak. Jadi Ibu di rumah saja,” katanya.

Prajak menghela napas. Sebelum bicara dia menoleh ke belakang. Betapa kagetnya, ibunya tidak ada. Izin pamit mencarinya. Mula-mula teriak pelan sambil mengecek setiap ruang. Tidak ada. Teriakannya mulai melengking, “Maaaaa…!” Murid-muridnya yang sudah berada di bawah dan hendak bersiap pulang, menengok ke atas. Mendapati gurunya terlihat kebingungan, semua murid turun dari sepeda, motor, mobil. Para orang tuanya bertanya,” mau kemana,” tak ada yang jawab. Bergegas lari sambil berteriak,” nenek, nenek!” Mereka ikut mencari. Para orang tua terdiam, saling tatap. Terheran-heran.

Sang ibu akhirnya ditemukan seorang murid bermobil. “Berhenti ma,” kata anaknya. Ibu yang termasuk pemrotes keras terheran. “Mau apa” tanyanya. “Nanti mama tahu,” jawabnya. Ia bergegas turun mendekati nenek. “Nenek, mengapa di sini?” Ia menemaninya sampai Pak Guru Prajak datang.

Sejak kejadian itu, semua wali murid tahu, betapa anak-anak mereka sangat menyayangi gurunya dan si nenek, ibu dari gurunya. Sama sekali tidak terganggu. Bahkan, anak dari si ibu pemrotes keras itu berkata begini kepada ibunya: “Mama, nanti kalau mama sudah tua, saya janji menemani mama kemanapun pergi.” sang Ibu merangkulnya. Air matanya meleleh. Dia tahu anaknya bicara begitu karena meneladani guru yang mereka protes.

Ketika Pak Kasek mengumpulkan para orang tua lagi, tak satu pun yang bersedia menandatangani surat protes. Mereka malah minta Pak Kasek untuk membatalkan surat protes mereka dan mempertahankan Pak Guru Prajak tetap mengajar di sekolah itu sampai kapan pun dia mau.

Mungkin ini hanya video inspiratif, mungkin sudah menerimanya beberapa kali. Tapi, tetap saja kita mendapatkan pelajarannya: bagaimana seharusnya kita menyayangi Bunda. Teringat Sabda Nabi saat ditanya sahabatnya siapa yang harus dihormati di dunia ini. “Ibumu!” jawab Nabi. Lalu? “Ibumu!” Lalu? “Ibumu!” Lalu? “Bapakmu!”

Hingga Ramadan ini, sudahkah kita begitu? Sudahkah kita selevel Pak Guru? Bukankah agama berkali-kali menekankan birrul walidayn, sayangi kedua orang tuamu. Salah satunya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu-bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” ( QS Luqman 14).

Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghiro. Ya, Tuhanku, ampunilah aku, dan ibu-bapakku. Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Aamiin.

4 Mei 2020, ba’da Asyar
Ali Murtadlo*
Presented by: Kabar Gembira Indonesia (KGI)

Related posts

Untuk Apakah Semua Waktu Kita Habiskan?