Kabargembiraindonesia.com
Artikel Ramadan

Amalus Sholihat Jaga Jarak dan Maskeran

 

Saya kagum terhadap gairah teman-teman dalam beragama. Salut kepada kawan yang jam dua dinihari sudah wake up call: tahajud time! Begitu juga yang tiap pagi mengirim WA: dhuha-dhuha. Termasuk yang rajin ngoprak-oprak one day one juz atau one week one juz. Keluarga besar punya grup ngaji, teman kantor bikin grup tersendiri, alumni kampus bikin lagi. Luar biasa.

Sayangnya, maaf beribu maaf, kadang-kadang untuk urusan muamalah, kita lemah. Contoh sederhananya sekarang ini. Sudah diumumkan berkali-kali bahkan spanduknya dipasang di pintu gerbang, tapi masih ada saja yang lupa maskeran. Padahal sangat berisiko: berpotensi menularkan atau ketularan. Dua hal yang sama-sama akan merepotkan banyak orang.

Padahal, bermasker, juga menjaga jarak, termasuk beriibadah, amalus sholihat, beramal baik. Kitab suci kita berkali-kali menekankan aamanu wa’amilus sholihat: beriman dan beramal salih. Bermasker adalah amal salih karena melindungi jiwa masing-masing dan orang lain. Sesuatu yang sangat basic dalam beragama. Itulah yang dimaksudkan oleh agama sebagai maqosid syariah khususnya yang hifdzun an-nafs (melindungi jiwa).

Nabi banyak memberikan contoh tentang kesalihan sosial ini. Misalnya: menyingkirkan duri atau gangguan apa pun di jalan, mengisahkan pelacur yang masuk surga gara-gara memberi minum kepada anjing yang kehausan. Karena itu, mestinya kita sangat termotivasi untuk berbuat kebaikan. Amal salih karena Allah itu ibadah, bantu istri ibadah, bantu orang lain ibadah, antri ibadah, pakai helm ibadah, patuh rambu lalu lintas ibadah, buang sampah di tempatnya ibadah, nice kepada orang lain ibadah, menyayangi binatang ibadah, menyirami tanaman ibadah.

Itulah muslim kaffah, utuh, total, menyeluruh. Hebat kepada sang pencipta, hebat juga kepada sesama makhluknya. Hebat ibadah mahdhohnya (ada tuntunan Qur’an dan Hadisnya), hebat juga ghoiru mahdhohnya. Hebat hablum minallohnya, hebat juga hablum minannasnya. Udhulu fissilmi kaffah (masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah– Al-Baqarah 208).

Kalau sudah total dan menyeluruh begini, insya Allah, bakal tambah harum agama kita. Tak ada lagi video viral seorang wanita mencabut bunga dan dibawanya pulang dengan mobilnya yang berkaligrafi.

Mungkin itulah yang dimaksudkan keindahan ajaran Islam kadang tertutupi oleh orang Islam sendiri (Al Islamu mahjubun bil muslimin). Semoga kita tidak termasuk satu di antaranya. Atau setidaknya, semoga Ramadan ini kita termotivasi untuk menghindarinya. Bahkan mengharumkannya. Dengan cara menjadi muslim yang kaffah. Aamiin.

9 Mei 2020, ba’da Asyar
Ali Murtadlo*
Presented by: Kabar Gembira Indonesia (KGI)